Publica.co.id, Marabahan – Pasca ambruk lima tahun lalu, hingga menyeret kasus korupsi pada pembangunannya, kini Jembatan Tanipah di Kecamatan Mandastana, Barito Kuala dipastikan hampir rampung dibangun kembali.

Menjelang deadline 23 Maret 2023, proyek penggantian Jembatan Tanipah di Kecamatan Mandastana diklaim tersisa delapan persen.

Klaim tersebut didasari pekerjaan tersisa berupa pembuatan trotoar dan pemasangan expansion joint, serta pengurukan dan pengaspalan oprit.

Sementara lantai jembatan sudah rampung dicor, Minggu (26/2). Selanjutnya tinggal menunggu beberapa hari lagi agar lantai mampu menopang beban lebih berat.

“Alhamduillah progres pekerjaan sudah mencapai 92 persen, setelah bagian inti dirampungkan,” papar Muhammad Subehan Hakim, perwakilan PT Haidasari Lestari selaku kontraktor pelaksana, Senin (27/2).

“Adapun sisa pekerjaan 8 persen berupa pekerjaan oprit, trotoar dan joint. Kami berharap sebelum 23 Maret 2023 dan alam pun mendukung, pekerjaan dapat diselesaikan,” imbuhnya.

Terkait kekuatan lantai jembatan, kontraktor pelaksana mengklaim beton sudah mulai kuat selepas sepekan dikerjakan, seiring penggunaan zat aditif.

“Lantas ketika usia beton sudah mencapai 15 hari. lantai sudah mampu memikul beban jembatan,” tegas Subehan.

Diketahui PT Haidasari Lestari mendapatkan total adendum atau penambahan durasi kerja selama 90 hari yang berakhir 23 Maret 2023.

Selama adendum berlangsung, kontraktor yang berasal dari Hulu Sungai Selatan (HSS) ini dibebani denda senilai 1 permil dari nilai kontrak atau sekitar Rp16 juta per hari.

“Kami berharap kontraktor menyelesaikan pekerjaan dengan baik, bahkan kalau bisa sebelum deadline,” papar Edi Supriadi, Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Batola.

“Kalau molor juga, konsekuensi yang diterima kontraktor adalah pemutusan kontrak. Namun dengan kondisi di lapangan, struktur utama jembatan dapat selesai sepekan kedepan. Selanjutnya tinggal merampungkan oprit di kedua sisi,” tegasnya.

Proyek senilai Rp17,51 miliar tersebut merupakan penggantian jembatan yang ambruk pada 17 Agustus 2017, sekitar pukul 11.20 Wita.

Insiden seusai upacara detik-detik Proklamasi Kemerdekaan itu sempat menyita sorotan publik, lantaran usia jembatan baru beberapa bulan setelah dirampungkan Februari 2016.

Sementara, pasca ambruknya jembatan, kejaksaan Batola menahan dua tersangka atas kasus korupsi proyek pembangunan jembatan yang merugikan negara Rp 16,3 Miliar.

Selain itu, hembatan yang menghubungkan lima desa itupun telah memutus akses masyarakat di sana yang bergantung dengan adanya pembangunan jembatan. Selama ambruknya jembatan, masyarakat hanya bisa mengakses jembatan darurat yang dibangun.

“Setelah hampir 5 tahun diharap-harapkan masyarakat, akhirnya jembatan sebentar lagi dirampungkan,” sahut Ketua Komisi III DPRD Batola, Muhammad Zamruni, seusai meninjau progres Jembatan Tanipah.

“Kami mengapresiasi semua pihak yang terkait, baik pemerintah daerah maupun kontraktor, karena sudah bekerja dengan baik,” pungkasnya.(IBR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *